
Kiasan
Dasar dalam Gerakan Pramuka merupakan salah satu metode kepramukaan di
samping metode yang lainnya yang mampu membawa peserta didik ke tingkat
pemahaman yang kuat. Namun, saat ini, kiasan dasar hanya dimaknai
sebagai simbol sejarah bangsa, dengan istilah siaga, penggalang,
penegak, dan pandega sebagai wujud pergerakan nasional. Padahal, kiasan
dasar merupakan terjemahan dari simbolic framework sebagai metode yang
harus digunakan secara aplikatif dalam kegiatan kepramukaan.
Kelebihan
manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karena manusia mampu
berinteraksi melalui simbol-simbol. George Herbert Mead bahkan
menemukan suatu Teori interaksionisme simbolik, yakni bahwa adaptasi
manusia terhadap dunia luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang
tidak hanya sekedar respons yang bersifat reflektif dari organisme
terhadap rangsangan lingkungan. Proses komunikasi tersebut dapat
digambarkan dalam gestural conversation (bahasa isyarat). Sebuah isyarat
yang menghasilkan respon yang sama memungkinkan terjadinya symbolic
communication (komunikasi simbol), komunikasi simbol ini selanjutnya
menjadi suatu kata-kata (simbol suara yang mengandung arti yang
dimengerti bersama), dan akhirnya menjadi bahasa.
Manusia
dapat menulis huruf yang disebut gambar bunyi yang merupakan
simbol-simbol. Manusia dapat pula mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sangat pesat dengan melalui pengembangan simbol-simbol.
Hal ini dapat kita maklumi bagaimana seandainya orang harus mengerjakan
atau bahkan hanya sekedar membaca rumus matematika, atau IPA, yang rumit
dengan secara tekstular, pasti akan menjadi sangat sulit sekali, dan
bahkan tidak akan mungkin untuk dapat dikembangkan.
Manusia
bahkan dapat berbicara lewat hati dan pikirannya dengan simbol-simbol
melampaui batas ruang dan waktu. Bahkan ketika tidurpun manusia bisa
berbicara dengan simbol-simbol. Manusia melalui rasa dan karsanya dapat
membayangkan dan memprogramkan sesuatu yang belum terjadi melalui
simbol-simbol.
Nenek
moyang kita mengarungi lautan menggunakan bintang-bintang tertentu
sebagai simbol penunjuk arah, petani ketika ia akan menanam padi
menggunakan ”kolo-mongso” yang merupakan simbol-simbol. Untuk memilih
jodoh, atau teman yang baik telah ada rumusannya dalam di setiap budaya
daerah dengan simbol-simbolnya masing-masing. Di dalam kisah pewayangan
orang-orang yang bijaksana disimbolkan dengan warna wajah yang hitam
atau kuning dengan mulut tertutup dan muka sedikit menunduk, sedangkan
orang-orang yang serakah, kejam, pendengki, digambarkan dengan wajah
merah, mulut sedikit terbuka dan kepala agak tengadah. Ini semua hanya
gambaran kecil suatu komunikasi dengan simbol-simbol. Interaksionisme
simbolik adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan
manusia.
Mead
(dalam Doyle Paul Johnson, 1990: 14 – 25) bahkan mengatakan bahwa
symbolic-frame ini bahkan dapat mempengaruhi proses berpikir manusia.
Dalam hal komunikasi (intra-personal; inter-personal; maupun
mass-comunication), kiasan dasar dapat menentukan “konsep diri”.
Melalui interaksionisme simbolik seseorang dapat menentukan
konsep-dirinya sebagai subjek ( I ) yang bertindak atas nama dirinya
untuk orang lain; dan sebaliknya dapat menjadikan dirinya sebagai objek
(me) yang merefleksikan dirinya bertindak atas nama orang lain untuk
dirinya sendiri, inilah selanjutnya yang di dalam masyarakat kita
disebut dengan “kontrol diri”.
Kiasan
Dasar sebagai suatu halaman komunikasi manusia yang telah terpilih,
(symbolic-frame), maka ia dapat ditumbuhi berbagai metode
sebagaimana:
a. Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar sambil melakukan (learning by doing);
c. sistem berkelompok (sistem beregu);
d.
kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang
sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik.
e. kegiatan di alam terbuka;
f. sistem tanda kecakapan;
g. sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;bahkan kiasan dasar sendiri yang dalam arti sempit sebagai:
h.
kiasan dasar; (yakni penyelenggaraan kepramukaan yang dikemas dengan
kias yang bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa).
Kiasan
Dasar dalam Gerakan Pramuka sebagai wahana komunikasi, nampak seiring
dengan hakekat tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Spencer, 1989
(dalam Nasution 1982: 35-36). Menurut Spencer (1989), bahwa hakekat
tujuan pendidikan adalah:
a.
self-preservation, yakni dengan pendidikan manusia harus dapat menjaga
kelangsungan hidupnya dengan cara hidup sehat, mencegah penyakit, hidup
teratur dan sebagainya;
b.
securing the necessity of life, manusia harus sanggup mencari
nafkahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan suatu
pekerjaan;
c.
rearing a family, sesorang nantinya akan menjadi “ibu” atau “bapak”
yang sanggup bertanggung-jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan
keluarganya;
d.
maintaining proper social and political relationship, setiap manusia
adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara,
oleh karenanya ia harus bergaul, rela bekerja-sama dengan orang lain
serta memenuhi kewajibannya sebagai warga negara;
e.
enjoying leisure time, manusia harus sanggup dan dapat memanfaatkan
waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan,
menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
Kiasan
Dasar dapat membangkitkan kemampuan alamiah bagi anak-anak, remaja dan
bahkan orang dewasa akan imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan
petualangan dengan cara:
a. Menstimulasi perkembangan peserta didik ke dalam berbagai dimensi (dimensi: filosofis, psikologis, sosial dan budaya).
b. Membantu mengenali nilai-nilai kepramukaan.
c. Membantu membangun jati dan pengembangan diri.
d. Membantu membangun persatuan dan solidaritas kelompok.
Kiasan Dasar Dalam Gerakan Pramuka
Max
Weber seorang sosiolog ternama di era sosiologi klasik sekaligus
peletak dasar metodologi Ilmu Sosial mengatakan bahwa orang tidak boleh
mulai suatu definisi, melainkan perlu menurunkan indikator-indikator
definisi itu sesuai contoh-contoh khusus, yang bagaimanapun juga tak
akan pernah menjadi definisi akhir, melainkan sebuah definisi yang
dicocokkan dengan maksud-maksud atau peristiwa yang sedang dihadapi.
Oleh karena itu di dalam Gerakan Pramuka baik dari namanya, kegiatannya
selalu memberikan nuansa pendidikan, romantisme, dan cocok dengan maksud
dan peristiwa baik yang telah, yang sedang dan bahkan yang akan
dihadapi.
Penerapan
kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka yang keanggotaannya digolongkan
menurut usia, menggunakan kiasan-dasar sebagai dimensi filosofis dalam
mencapai visi dan misi yang diembannya.
Nama-nama
peserta didik di awal berdirinya kepramukaan dunia, yang sampai saat
ini masih digunakan sebagai contoh anggota Siaga di sana disebut Cub
artinya anak srigala mengkiaskan kemanjaan, keceriaan, selalu mengikuti
induknya ke mana pergi, tetapi senantiasa belajar untuk mandiri.
Adapun anggota Penggalang disebut Scout adalah mengkiaskan keperwiraan, kesatriaan.
Anggota
Pramuka Penegak disebut Rover mengkiaskan seorang pengembara yang ingin
senantiasa belajar, mencari jati diri, dan mencoba membaktikan diri
kepada masyarakat.
Di
Indonesia pemilihan nama-nama bagi peserta didik, jauh lebih memberikan
makna bagi pendidikan. Dipilihnya nama-nama peserta didik adalah
mengkiaskan tahapan perjuangan Bangsa Indonesia, hingga saat ini.
Nama
Siaga mengkiaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari
munculnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada tanggal 20 Mei tahun
1908, bertepatan dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo, yang
memiliki sifat nasional, di mana bangsa Indonesia telah mensiagakan
diri, mendidik diri, memulai menyentuh wawasan kebangsaan.
Diungkapkannya
nama Penggalang mengkiaskan suatu tahapan kisah perjuangan pergerakan
bangsa Indonesia yang sudah memulai menggalang persatuan dengan
dicetuskannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Nama
Penegak dimaknakan sebagai akumulasi perjuangan pergerakkan kemerdekaan
Indonesia di mana bangsa Indonesia menegakkan negara kesatuan Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sedangkan
dipilihnya nama Pandega mengkiaskan tahapan perjuangan bangsa Indonesia
pasca kemerdekaan yakni seluruh rakyat harus mandegani NKRI yakni
mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan ini dengan
pembangunan.
Kiasan
dasar nampak sekali dalam berbagai formasi barisan dalam kegiatan
“upacara pembukaan dan penutupan latihan” yang berbeda di antara
masing-masing golongan (S, G, T, D). Perbedaan ini bukan asal berbeda
tetapi oleh para founding-fathers kita sudah dipikirkan sedemikan rupa,
dikiaskan padanannya sebagai alat pendidikan dan kebanggaan, diolah,
diperdalam sehingga memiliki makna flosofis yang sangat kuat, yang
mendera kepribadian sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani
peserta didik di masing-masing golongan tersebut.
Formasi
barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Siaga yang berbentuk
bulat, sedangkan Pembina berdiri di-tengah-tengahnya” melambangkan bahwa
pada usia 7 – 10 tahun Pembina merupakan “Focus of Interest”. Pada
formasi tertutup ini, Pramuka Siaga dimaksudkan agar dalam menyerap
nilai-nilai sosial, nilai relegiuos, nilai-nilai budaya tidak melalui
dunia luar tetapi melalui pribadi Pembinanya. Pada usia tersebut, di
mana dasar-dasar penanaman nilai-nilai cinta-bangsa, cinta tanah-air,
cinta bahasa merupakan sesuatu yang sangat vital, sedangkan anak-anak
belum dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi
perkembangan jiwanya, oleh karena itu bagi anak Siaga dalam menyerap
nilai-nilai (value system) cukuplah sementara melalui komunitas sosial
Gerakan Pramuka.
Formasi
barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penggalang berbentuk
Angkare atau huruf U, dan Pembina berdiri di tengah di depan barisan”.
Di sini melambangkan bahwa peserta didik sudah diberi kesempatan melihat
dunia luar dalam menyerap nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian
bangsa Indonesia, lewat Pembinanya.
Formasi
barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penegak dan Pandega
berbentuk lidi, di mana Pembina berdiri pada deretan lidi tersebut” Hal
ini melambangkan bahwa pada usia 16 sampai dengan 25 tahun peserta didik
sudah diberi keleluasaan sepenuhnya untuk mencari sendiri nilai-nilai
luhur tersebut sebagai bagian dari character building melalui
pengalamannya sendiri, sedangkan Pembina lebih banyak “Tut wuri
handayani”.
Dalam setiap proses penyelenggaraan kegiatan kepramukaan selalu terjalin 5 unsur yang terpadu yakni:
Prinsip Dasar Kepramukaan
Metode Kepramukaan
Kode Kehormatan
Motto Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar Gerakan Pramuka.
Kiasan
Dasar sebagai symbolic frame berperan mendukung konsistensi kehidupan
peserta didik dalam kelompok kecil (Barung, Regu, Sangga, Reka), sebagai
suatu ikatan pendekatan kelompok (small unit approach), maupun dalam
ikatan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan di perindukan, pasukan,
ambalan, racana maupun di masyarakat.
Penutup
Kiasan
dasar merupakan referensi penyerapan nilai-nilai luhur kepribadian
bangsa, yang dikembangkan dalam pendidikan/pembelajaran yang dinamik
sehingga langsung menyentuh lubuk hati peserta didik.
WOSM memulai program pada tahun 1908, di awal kepramukaan negara-negara di luar Inggris memandang Baden-Powell sebagai pembimbing dan penginspirasi. Lalu, kebutuhan untuk sebuah payung organisasi internasional diperlukan, dan pada tahun 1922 sejumlah asosiasi nasional Pramuka membuat WOSM. Sementara sebagian besar anggota WOSM adalah mahasiswi pada beberapa tingkatan, menjadi anggota WOSM, dan yang lain berinduk pada WAGGGS (World Association of Girl Guides and Scout).
Unit kepanduan di luar wilayah kerajaan Inggris yang pertama diakui keberadaannya, dibentuk di Gilbraltar pada tahun 1908, yang kemudian diikuti oleh pembentukan unit lainnya di Malta. Kanada ialah koloni Inggris pertama yang mendapat izin dari kerajaan Inggris untuk mendirikan gerakan kepanduan, diikuti oleh Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Chili ialah negara pertama diluar Inggris dan koloninya yang membentuk gerakan kepanduan. Parade Pramuka pertama diadakan di Crystal Palace, London pada tahun 1910. Parade tersebut menarik minat para remaja di Inggris. Tidak kurang dari 10.000 remaja putra dan putri tertarik untuk bergabung dalam kegiatan kepanduan. Pada 1910 Argentina, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, India, Meksiko, Belanda, Norwegia, Russia, Singapura, Swedia, dan Amerika Serikat tercatat telah memiliki organisasi kepramukaan.
Semenjak didirikan, Gerakan Pramuka yang memfokuskan program pada remaja usia 11-18 tahun telah mendapat respon yang menggembirakan, anggota bertambah dengan cepat. Kebutuhan program pun dengan sendirinya bertambah. Untuk memenuhi keinginan dan ketertarikan para generasi muda pada saat itu, gerakan pramuka menambah empat program dalam organisasinya untuk melebarkan lingkup keanggotaan gerakan pramuka. Keempat prpogram tersebut meliputi : Pendidikan Generasi Muda usia dini, Usia Remaja, pendidikan kepanduan putri, dan pendidikan kepemimpinan bagi pembina.
Program untuk golongan siaga, unit Satuan Karya, dan Penegak/pandega mulai disusun pada akhir tahun 1910 di beberapa negara. Terkadang, kegiatan kegiatan tersebut hanya berawal di tingkat lokal/ ranting yang dikelola dalam skala kecil, baru kemudian diakui dan diadopsi oleh kwartir nasional. Kasus serupa terjadi pada pendirian golongan siaga di Amerika Serikat, yang program golongan siaganya telah dimulai sejak 1911 di tingkat ranting namun belum mendapatkan pengakuan hingga 1930.
Sejak awal didirikannya gerakan kepanduan, para remaja putri telah mengisyaratkan besarnya minat mereka untuk bergabung. Untuk mengakomodasi minat tersebut, Agnes Baden Powell —adik dari bapak kepanduan sedunia, Robert Baden Powell,— pada tahun 1910 ditunjuk menjadi presiden organiasi kepanduan putri pertama di dunia. Agnes pada awalnya menamakan organisasi tersebutRosebud, yang kemudian berganti menjadi Brownies (Girl Guide) pada 1914. Agnes mundur dari kursi presiden pada tahun 1917 dan digantikan oleh Olive Baden Powell, istri dari Lord Baden-Powell. Agnes tetap menjabat sebagai wakil presiden hingga ia meninggal pada usia 86 tahun. Pada waktu tersebut, kepanduan putri telah diposisikan sebagai unit terpisah dari kepanduan pria, hal tersebut dilakukan menimbang norma sosial yang berlaku saat tersebut. Pada era 90-an, Banyak organisasi kepanduan di dunia yang saling bekerjasama antara unit putra dan putri untuk memberikan pendidikan kepanduan.
Program awal bagi pendidikan pembina diadakan di London pada tahun 1910, dan di Yorkshire pada tahun 1911. Namun, Baden Powell menginginkan pendidikan tersebut dapat dipraktekkan semaksimal mungkin. Hal tersebut berarti bahwa dalam setiap pendidikan diperlukan praktek lapangan semisal berkemah. Hal ini membimbing pembentukan kursus Woodbadge. Akibat Perang Dunia I, pendidikan woodbadge bagi para pembina tertunda hingga tahun 1919. Pada tahun tersebut, diadakan kursus woodbadge pertama di Gilwell Park. Pada saat ini, pendidikan bagi pembina telah beragam dan memiliki cakupan yang luas. Beberapa pendidikan yang cukup terkenal bagi pembina, seperti Pendidikan dasar, Pendidikan spesifik golongan, hingga kursus Woodbadge.
Idemm untuk mengadakan gerakan tersebut muncul ketika Baden-Powell dan pasukannya berjuang mempertahankan kota Mafeking, Afrika Selatan, dari serangan tentara Boer. Ketika itu, pasukannya kalah besar dibandingkan tentara Boer. Untuk mengakalinya, sekelompok pemuda dibentuk dan dilatih untuk menjadi tentara sukarela. Tugas utama mereka adalah membantu militer mempertahankan kota. Mereka mendapatkan tugas-tugas yang ringan tapi penting; misalnya mengantarkan pesan yang diberikan Baden-Powell ke seluruh anggota militer di kota tersebut. Pekerjaan itu dapat mereka selesaikan dengan baik sehingga pasukan Baden-Powell dapat mempertahankan kota Mafeking selama beberapa bulan. Sebagai penghargaan atas keberhasilan yang mereka dapatkan, setiap anggota tentara sukarela tersebut diberi sebuah lencana. Gambar dari lencana ini kemudian digunakan sebagai logo dari gerakan Pramuka internasional.
Keberhasilan Baden-Powell mempertahankan kota Mafeking membuatnya dianggap menjadi pahlawan. Dia kemudian menulis sebuah buku yang berjudul Aids to Scouting (ditulis tahun 1899), dan menjadi buku terlaris saat itu.
Pada tahun 1906, Ernest Thompson Seton mengirimkan Baden-Powell sebuah buku karyanya yang berjudul The Birchbark Roll of the Woodcraft Indians. Seton, seorang keturunan Inggris-Kanada yang tinggal di Amerika Serikat, sering mengadakan pertemuan dengan Baden-Powell dan menyusun rencana tentang suatu gerakan pemuda.
Pertemuannya dengan Seton tersebut mendorongnya untuk menulis kembali bukunya, Aids to Scouting, dengan versi baru yang diberi judul Boy's Patrols. Buku tersebut dimaksudkan sebagai buku petunjuk kepanduan bagi para pemuda ketika itu. Kemudian, untuk menguji ide-idenya, dia mengadakan sebuah perkemahan untuk 21 pemuda dari berbagai lapisan masyarakat selama seminggu penuh, dimulai pada tanggal 1 Agustus, di kepulauan Brownsea, Inggris. Metode organisasinya (sekarang dikenal dengan sistem patroli atau patrol system dalam bahasa Inggris) menjadi kunci dari pelatihan kepanduan yang dilakukannya. Sistem ini mengharuskan para pemuda untuk membentuk beberapa kelompok kecil, kemudian menunjuk salah satu di antara mereka untuk menjadi ketua kelompok tersebut.
Setelah bukunya diterbitkan dan perkemahan yang dilakukannya berjalan dengan sukses, Baden-Powell pergi untuk sebuah tur yang direncanakan oleh Arthur Pearson untuk mempromosikan pemikirannya ke seluruh Inggris. Dari pemikirannya tersebut, dibuatlah sebuah buku berjudulScouting fo Boys, yang saat ini dikenal sebagai buku panduan kepramukaan (Boy Scout Handbook) edisi pertama.
Saat itu Baden-Powell mengharapkan bukunya dapat memberikan ide baru untuk beberapa oraganisasi pemuda yang telah ada. Tapi yang terjadi, beberapa pemuda malah membentuk sebuah organisasi baru dan meminta Baden-Powell menjadi pembimbing mereka. Ia pun setuju dan mulai mendorong mereka untuk belajar dan berlatih serta mengembangkan organisasi yang mereka dirikan tersebut.
Seiring dengan bertambahnya jumlah anggota, Baden-Powell semakin kesulitan membimbing mereka; Ia membutuhkan asisten untuk membantunya. Oleh karena itu, ia merencanakan untuk membentuk sebuah Pusat Pelatihan Kepemimpinan bagi Orang Dewasa (Adult Leadership Training Center). Pada tahun 1919, sebuah taman di dekat London dibeli sebagai lokasi pelatihan tersebut. Ia pun menulis buku baru yang berjudul Aids to Scoutmastership dan beberapa buku lainnya yang kemudian ia kumpulkan dan disatukan dalam buku berjudul Rovering to Success for Rover Scoutspada tahun 1922.
Sekalipun Gerakan Kepanduan didirikan Baden-Powell, tetapi ia banyak terinspirasi Frederick Russell Burnham, org Amerika yg membantu Inggris di Afsel. Burnham banyak belajar tehnik hidup di alam bebas dr ayahnya yg menjadi pastor di tempat penampungan (reservasi) orang Indian. Burnham yg sukses menghadapi beberapa perang pemberontakan Indian, lalu pergi ke Afsel & berkenalan dg Baden-Powell di Perang Boer. Dari Burnham lah Baden-Powell menyusun berbagai ketrampilan2 dasar yg diperlukan seorang Boy Scout (Pandu). Terinspirasi org Indian. Selanjutnya di Gerakan Kepanduan, Burnham diangkat sebagai “Kepala Suku” pertama dari gerakan yg didirikan Baden-Powell. scout is game (Sumber: Wikipedia)
Macam Ikatan dan Kegunaannya
1. Ikatan pangkal
Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan pangkal ini dapat juga
digunakan untuk memulai suatu ikatan.
2. Ikatan tiang
Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih dapat bergerak leluasa misalnya
untuk mengikat leher binatang supaya tidak tercekik.
3. Ikatan jangkar
Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.
4. Ikatan tambat
Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat, akan tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini juga dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga dipergunakan untuk memulai suatu ikatan.
5. Ikatan tarik
Gunanya untuk menambatkan tali pengikat binatang pada suatu tiang, kemudian mudah untuk
membukanya kembali. Dapat juga untuk turun ke jurang atau pohon.
6. Ikatan turki
Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher
7. Ikatan palang
8. Ikatan canggah
9. Ikatan silang
10. Ikatan khaki tiga
Untuk gambar macam-macam ikatan dapat dilihat di bawah ini.